hari para pembaca blog saya yang terhormat.....
kali ini saya akan membahas tentang Hassassin....
ok lngsung ajah ke tkp....
Pada pertengahan abad ke 12, di Syria terdapat sebuah kelompok rahasia para
penghisap ganja. Mereka berusaha merebut tahta kepemimpinan Islam pada masa itu
dengan cara-cara kekerasan. Kelompok ini memiliki struktur organisasi rapi.
Mereka membangun sistem sel bawah tanah. Membentuk agensi dan spionase dengan
struktur kepemimpinan piramidal. Jaringan intelijen piramidal ini mereka
gerakkan di tengah masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Hassassin atau Hashshashin, seperti yang
anda ketahui, adalah sekelompok kriminal yang muncul pada tahun 1092. Meskipun
kekuasaan teror sudah lama menghilang, namun mereka tidak dilupakan. Nama dari
organisasi rahasia ini berasal dari kebiasaan menggunakan hasis (ganja) sebelum
melakukan salah satu tindak kriminal politik – dan nama inilah yang merupakan
asal istilah “assassin” yang masuk ke dalam bahasa Inggris – dan pada
bahasa-bahasa lainnya juga
Dalam kepemimpinan piramidal ini, ada satu pemimpin tertinggi. Tugasnya mengatur
seluruh agen di berbagai wilayah masyarakat Muslim. Para eksekutor kelompok
dalam organisasinya ini disebut Assassins.
Semula, kelompok Assassins ini disebut Nizariyah. Karena, mereka berusaha
mengembalikan Pangeran Nizar al-Toyyib ke tahta kekuasaan Mesir. Nizariyah
melakukan cara ini karena yakin bahwa Pangeran Nizar al-Toyyib adalah
reinkarnasi Nabi Ismail as. Namun berkali Nizariyah salah patron dan gagal
meraih tujuan. Akhirnya mereka berinovasi menentukan pemimpin.
Merasa mendapat jalan buntu dan jengah mengalami kegagalan akibat salah
memilih pemimpin, Nizariyah mereorientasi sistem organisasi dan bertindak
berbeda dengan cara-cara sebelumnya. Kali ini Nizariyah melanggar syariah
Islam. Mereka menyabotase dan mengadopsi secara compang-camping akidah Syiah
tentang Imam Mahdi. Dengan dalih mempersiapkan diri untuk menyambut datangnya
Imam Mahdi, Imam ke-12 yang diagungkan masyarakat Syiah, kelompok Nizariyah
melancarkan serangan bawah tanah kepada orang-orang yang dianggap musuhnya.
Perbuatan Nizariyah ini jelas bertentangan dengan syariah Islam yang
disampaikan Nabi Muhammad SAW dan keyakinan masyarakat Syiah. Kepemimpinan Nabi
pamungkas ini (menurut keyakinan Syiah, amanah) dilanjutkan oleh 12 Imam. Imam
terakhir adalah Imam Mahdi yang dijanjikan Allah SWT sebagai penegak keadilan
akhir zaman.
Sehebat apapun atraksi mereka, meski mengklaim gerakannya demi mempersiapkan
kehadiran Imam Mahdi, sangat jelas mereka melanggar Syariat Islam Syiah.
Misalnya, kelompok Nizariyah membolehkan setiap pemimpin mereka memiliki hak
istimewa; meminum anggur hingga mabuk, menghisap ganja hingga teler. Lebih
fatal lagi, pemimpin mereka dihalalkan membunuh umat Islam lainnya dengan dalih
jihad. Penyimpangan total terhadap Syariat Islam yang mereka lakukan menjadi
alasan para ulama Syiah mendakwa mereka sebagai orang-orang murtad dan sesat.
Setelah dinyatakan bersalah dan sesat, kelompok Nizariyah meninggalkan Mesir
dan pindah ke Syria. Kemudian, di sana kaum Nizariyah dikenal sebagai kelompok
Hashshasin. Bahasa Inggris mengkonversi kata ini menjadi Assassins, artinya
para pembunuh. Namun penegasan ini masih mengandung kontroversi. Hashshasin
yang diartikan “penghisap ganja”, menurut beberapa pakar Bahasa Arab berasal
dari kata yang artinya “penjaga rahasia-rahasia”.
Selanjutnya, dalam kendali kepemimpinan Hasan Bin Sabah, kelompok Assassins
banyak melakukan serangan gerilya secara keji. Mereka menyerang kota Baghdad
dari markas besar Lembah Alamut, di sebelah utara Persia. Mereka berusaha
menggulingkan penguasa pada masa itu.
Dalam The History of The Assassins, Amin Maluf menjelaskan bahwa Hasan Bin
Sabah adalah master budaya dan penyair yang menguasai sains modern. Hasan Bin
Sabah berusaha keras membangun organisasi Assassins. Dia adopsi teknik-teknik
Darul Hikmat di Kairo, Mesir. Dia berambisi memajukan organisasi yang
dipimpinnya itu. Terbukti, setelah dua abad lebih, kelompok Assassins lihai
membunuh musuh-musuhnya dengan racun dan senjata. Kelompok ini juga mahir
melakukan serangan-serangan bawah tanah yang pernah menjadi momok di kawasan
Timur Tengah.
Benteng Assassins Lembah Alamut menjadi salah satu legenda Persia yang
terkenal dengan sebutan “ surga dunia”. Marco Polo terkesan akan kemegahan dan
kemewahan Benteng Alamut. Usai perjalanannya melintasi benteng itu pada tahun
1271 M, dia menulis :
Di lembah elok itu, di antara dua gunung tinggi menjulang, dia (Hasan Bin
Sabah) membangun taman-taman mewah. Di dalamnya tumbuh semua pohon berbuah
ranum dan segala tumbuhan harum yang bisa dipetik. Istana-istana dengan ragam
luas dan bentuk dibangun di setiap hamparan taman yang berbeda-beda.
Istana-istana itu dihias batu emas. Di dinding-dindingnya bergelantungan
lukisan-lukisan. Di jendela-jendelanya bermacam kelambu sutra mewah terpajang.
Di ruang-ruang istana, suguhan anggur, susu, madu, dan air bersih tersaji di
tiap sudutnya. Penghuninya gadis-gadis cantik molek. Mereka semua pandai
bernyanyi, memainkan berbagai alat musik, dan menari. Mereka semua manja serta
memikat dengan sejuk.
Sebuah kastil kokoh, seolah mustahil dihancurkan menancap di gerbang. Dia
ingin tak seorangpun masuk ke “surga dunia” itu tanpa izinnya. Itulah pintu
masuk menuju lembah elok itu.
Hasan Bin Sabah merekrut para pemuda di wilayahnya sebagai pengikutnya
dengan cara membius mereka dan mengangkutnya ke lembah itu. Setelah sadar,
ternyata mereka berada di “surga dunia” itu. Pemandangan surga dunia dipamerkan
kepada mereka. Segala kenikmatan bius mereka rasakan berbarengan dengan
doktrin-doktrin sebelum akhirnya dilepas kembali ke tengah masyarakat.
Setelah para pemuda itu diculik oleh Hasan Bin Sabah untuk dijadikan murid,
ketika itu mereka dicuci otak dengan berbagai merek dan tipe tipu daya. Akal
sehat mereka menjadi hilang. Bagi mereka, sosok Hasan Bin Sabah adalah
segalanya. Moto mereka kemudian : Tak ada larangan ! Semua halal !
Para pemuda “berotak baru” itu telah terbiasa dengan kenikmatan di lembah
“surga dunia”. Akhirnya mereka merasakan dunia luar tak bernilai apa-apa.
Mereka mabuk doktrin Hasan Bin Sabah. Setelah terbiasa dengan kemewahan, ketika
mereka dikembalikan di lingkungan semula yang sarat dengan kerja keras dan
hambatan-hambatan, timbul rasa ingin kembali ke taman surgawi Hasan Bin Sabah.
Untuk mendapatkan lagi kenikmatan “surga dunia” itu, mereka halalkan segala cara
dan rela meski nyawa sebagai taruhan.
Art of Imposture (seni menipu). Begitu Abdul Rahman menulis. Dia catat
muslihat Hasan Bin Sabah ketika memerintah seorang murid terdekatnya yang
memiliki loyalitas tinggi ditanam hingga leher. Kemudian murid yang hanya
kelihatan kepalanya di atas tanah itu dilumuri darah segar. Tampaklah kepala
itu tanpa tubuh. Sebelumnya murid terdekat itu dikabarkan terpenggal kepalanya
di medan perang. Setelah murid loyal itu benar-benar tampak seolah mati, Hasan
Bin Sabah mengumpulkan murid-murid barunya untuk menyaksikan kepala berlumur
darah tanpa tubuh itu. Di depan murid-murid baru itu, murid loyal yang hanya
tampak kepalanya di atas tanah itu mengabarkan kenikmatan surga.
Murid-murid barupun mendengar syair-syair palsu tentang surga yang terujar
dari kepala berlumur darah itu. Indah dan menggiurkan. Mereka menyangka,
seniornya itu telah masuk surga. Setelah Hasan Bin Sabah benar-benar yakin
bahwa murid-muridnya telah terbius oleh tipu dayanya, dia memerintah mereka
kembali ke “surga dunia”. Kemudian, murid yang ditanam hingga leher itu
benar-benar dipenggal. Untuk menyempurnakan tipu muslihatnya, Hasan Bin Sabah
memajang kepala itu di tiang ritual hingga selalu bisa disaksikan seluruh
penduduk lembah “surga dunia”. Murid-muridpun terbius surga palsu.
Arkun Daraul dalam karyanya A History of Secret Societies, membagi kelompok
rahasia pengikut Assassins menjadi tiga lapis. Pertama, para misionaris
(Dayes), kedua para sahabat (Rafiq), ketiga adalah murid-murid yang teruji
kesetiaannya, pecintanya (Muhibbin). Golongan terakhir adalah para eksekutor
terlatih. Para muhibbin mencirikan diri dengan topi putih dan sepatu boot
merah. Ketiga lapis kelompok Assassins, selain mahir menghunjam belati di dada
korbannya, mereka juga menguasai bermacam bahasa. Ada kalanya mereka berdandan
dan berperilaku seolah pendeta. Mereka juga berbaur dengan masyarakat dengan
menjadi pedagang dan serdadu. Intinya, mereka siap menyamar apa saja sebagai
kedok demi menjalankan misi dan meraih tujuan.
Kata sandi anggota Assassins adalah “dari surga”. Setiap ada “surat perintah
jalan” untuk misi, eksekutor Assassins akan mendapat pertanyaan, “Dari mana
asalmu ?” sang eksekutor pun menjawab,”Dari surga”. Setelah dipastikan,
instruksi dimandatkan,” Bunuhlah fulan/fulanah. Setelah berhasil, kau akan
kembali menghuni surga. Jemputlah kematian ! Karena para malaikat tak sabar
mengangkatmu ke surga.”
Pengaruh Assassins menyebar ke seantero jagad hingga pertengahan abad 13.
Setelah Hasan Bin Sabah terbunuh di tangan anaknya sendiri, Muhammad, kelompok
Assassins mengalami kemunduran. Kemudian Muhammad juga dibunuh anaknya sendiri.
Tahun 1256, markas besar Assassins, Benteng Alamut, jatuh ke tangan penjajah
Mongol yang menandai akhir riwayat Assassins.
Pada awal abad 16, pemerintahan Ottoman yang berkuasa, menghancurkan
pertahanan terakhir Assassins yang tak terkalahkan pada masanya. Perubahan
besar ini menjadikan dinasti pemimpin Nizariyah Ismailiyah memodernisasi
organisasinya. Agha Khan adalah tokoh utamanya. Kemudian mereka menghilangkan
citra Assassins atau ‘pembunuh’. Organisasi yang berubah total ini mensyaratkan
toleransi kepada sesama umat manusia sebagai lanskap kegiatannya dan
melaksanakan perintah Al-Quran.
ok sekian postingan dari saya.
wassalam............
0 komentar:
Posting Komentar